Selasa, 07 Januari 2014

Journey to be a Champ English Science Presentation 1

kuwait day @ Fajar Hidayah 5 mei 2013

12 Perbedaan Sistem Pendidikan Indonesia & Finlandia

12 Perbedaan Sistem Pendidikan Indonesia & Finlandia





Kualitas pendidikan di Indonesia yang kini kian memprihatinkan, cukup membuat kita sesak dada dan tak habis pikir, apa yang salah sebenarnya dengan sistem pendidikan kita.
Mari kita bandingkan dengan Finlandia, negara dengan sistem pendidikan yang jauh lebih baik dari Indonesia. apa sebenarnya yang berbeda?

1) Finlandia : Anak-anak baru bersekolah setelah mereka berusia 7 tahun.
Indonesia : ada playgroup, TK A, TK B, bahkan sebelum umur 3 tahun pun sudah ada yang ‘menyekolahkan’ anaknya, meskipun memang cuma satu jam dengan tujuan anaknya bersosialisasi. Masalahnya lagi, untuk masuk SD pun sekarang anak-anak DIHARUSKAN sudah bisa membaca. Ada tes masuknya. Jadi ingat percakapan ibu-ibu di commuter line yang curhat soal hal ini. Yang stres bukan cuma anaknya. Orang tuanya lebih lagi.
2) Finlandia : sebelum mencapai usia remaja, anak-anak ini jarang sekali diminta mengerjakan pekerjaan rumah DAN tidak pernah disuruh mengikuti ujian.
Indonesia : TK pun sekarang sudah punya pekerjaan rumah, meskipun cuma sekedar menebalkan garis dan menulis angka.
3) Finlandia : hanya ada satu tes yang wajib diikuti oleh pelajar, dan saat itu mereka berusia 16 tahun.
Indonesia :like I mentioned before, masuk SD pun ada tesnya. Terutama SD favorit.
4) Finlandia : sekolah tidak membedakan anak yang pintar dan kurang pintar. Seluruhnya ditempatkan di dalam ruang kelas yang sama.
Indonesia : ada beberapa sekolah yang memberlakukan pembagian kelas berdasarkan tingkat intelegensia anak. Contoh : peringkat 1-10 masuk ke kelas A, 11-20 kelas B, dst.
5) Finlandia : Kesenjangan antara murid terpintar dan murid paling tidak pintar di Finlandia adalah yang terkecil di dunia. Artinya, murid paling tidak pintar pun masih terhitung pintar.
Indonesia : kesenjangan begitu terlihat, banyak siswa pintar, yang kurang pun banyak.
6) Finlandia : Setiap guru hanya menghabiskan waktu 4 jam sehari di kelas dan punya waktu 2 jam per minggu yang didedikasikan untuk ‘professional development’.
Indonesia : para guru di Indonesia yang bisa mengajar mulai jam 7 pagi sampai jam 3 sore non stop. Imagine how tired they are
7) Finlandia : Jumlah guru yang dimiliki oleh Finlandia sama dengan jumlah guru di New York, namun jumlah murid yang ditangani jauh lebih sedikit.
Indonesia : Jumlah guru dibandingkan murid sangat jauh, dalam 1 kelas biasa terdapat 35 murid, dan 1 guru.
 Finlandia : Seluruh sistem pendidikan didanai oleh negara. Gratis total.
Indonesia : meskipun sudah ada beberapa wilayah yang menetapkan pendidikan gratis, masih banyak pungutan2 yg harus dibayar siswa kepada sekolah, seperti uang Lab computer, Lab bahasa, dll.
9) Finlandia : Seluruh guru harus memiliki gelar Master/S2 yang didanai seluruhnya oleh pemerintah.
Indonesia : guru harus mencari biaya untuk melanjutkan pendidikan sendiri, tak ada bantuan pemerintah kepada semua guru.
10) Finlandia : Kurikulum nasional hanya berlaku umum. Setiap guru (sepertinya) diberikan kebebasan mengembangkan metode pengajarannya.
Indonesia : Guru WAJIB mengikuti kurikulum dari pemerintah yang HAMPIR setiap 5 tahun berubah-ubah.
11) Finlandia :yang menjadi guru hanyalah yang merupakan 10 lulusan teratas di universitas.
Indonesia : para lulusan terbaik berprofesi sebagai apa ya? Dokter, pengacara, direktur, investasi dan saham, pegawai Pajak?
12) Finlandia : Status guru di masyarakat setara dengan status pengacara dan dokter. Katanya, kalau masuk ruang kelas di Finlandia, trus murid-muridnya ditanya, Siapa yang bercita-cita jadi guru? Seperempat nya akan mengangkat tangan.
Indonesia : Status guru ( apalagi non-pns) masih sering diremehkan, & dianggap pekerjaan yang kurang mencukupi kebutuhan hidup.

Sumber : 

Senin, 06 Januari 2014

Kilas balik 2013

Kilas balik 2013








Kuliah Metode Pembelajaran oleh Ibu Sa'eda Buang,


Kuliah Metode Pembelajaran 
oleh Ibu Sa'eda Buang, 
(Dosen National Institute of Education, 
Nanyang Technological University, Singapore)


di Sekolah SIT Fajar Hidayah, Tgl 21 - 24 Desember 2013

Rabu, 11 Desember 2013

Persiapan konten Fajar Hidayah TV. Wawancara dengan Bu Fortin ..... (@ Sekolah SIT Fajar Hidayah Kota Wisata - Cibubur. Bogor)


Wawancara dengan Bu Fortin (Guru SMA SIT Fajar Hidayah)

Rabu, 27 November 2013

Seminar Pendidikan







Seminar Pendidikan dengan tema
"Peningkatan Kualitas Guru Guna Menyongsong Generasi Emas Indonesia 2045".

Seminar Pendidikan yang akan dilaksanakan pada Selasa, 26 November 2013 

di Gedung Sertifikasi Guru UNJ Lt. 9 

menghadirkan pembicara-pembicara hebat.

Pembicara pertama, Prof. H.A.R. Tilaar, M.Sc. Ed (Guru Besar UNJ)


Pembicara kedua ada Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd (Kepala Pusat Pengembangan Profesi Pendidik BPSD dan PMP Kemdikbud),


Mr. Kai Sauer (Duta Besar Finlandia untuk Indonesia).

Banyak yang bertanya-tanya kenapa pembicaranya harus Duta Besar Finandia? Dan kenapa harus menunggu di tahun 2045?


"EDucation System and Teacher Training in Finland


Seminar Pendidikan
"Peningkatan Kualitas Guru Guna Menyongsong Generasi Emas Indonesia 2045".
  dilaksanakan pada Selasa, 26 November 2013 

di Gedung Sertifikasi Guru UNJ Lt. 9

Duta Besar Finlandia bersama dengan Prof. H.A.R. Tilaar, M.Sc. Ed (Guru Besar UNJ)







Mr. Kai Sauer (Duta Besar Finlandia untuk Indonesia).





Sabtu, 23 November 2013

Agenda Kegiatan SIT Fajar Hidayah, kota Wisata - Cibubur

Agenda Kegiatan SIT Fajar Hidayah, kota Wisata - Cibubur :

1. Akreditasi Sekolah SMA SIT Fajar Hidayah : Tgl 18 & 19 November 2013
2. Special Event "Gebyar Muharram 1435 H" : Jumat, 22 November 2013
3. Ujian Akhir Semester 1 Tahun Pelajaran 2012/2013.
4. Open House Sekolah SIT Fajar Hidayah
5. family Camp : 14 Desember 2013.
6. Science Fair : Januari 2014
7. Special Event :  Nusantara Days,   

Selasa, 19 November 2013

KAPUR TULIS DI SEKOLAH JEPANG



Artikel ini saya sunting dari Fb Kehidupan di Jepang


KAPUR TULIS DI SEKOLAH JEPANG

Saya pernah menemani serombongan pengasuh pondok pesantren yang diundang Deplu Jepang untuk studi banding ke sejumlah sekolah di Tokyo dan Osaka.

Jepang yang canggih. Senantiasa seperti itulah yang tertanam di benak kepala orang yang baru pertama kali ke negara ini. Nuansa inilah yang tertangkap dalam pertemuan hari itu.

Jepang yang berupaya hemat dan awet. Ini yang saya pahami saat menghabiskan waktu mengamati betapa di banyak institusi dan rumah tangga, orang-orang Jepang berupaya memaksimalkan pemanfaatan setiap sumber daya yang digunakannya.

Kunjungan hari itu memang sebuah paradoks bila dilihat di kacamata orang Indonesia. Sebuah SMP sederhana di kawasan perumahan elit, Hiroo, di pusat Tokyo.

(Ssst, ini bukan sekolah nomor satu, tak ada grand piano di aula sekolah, bisik teman, putra seorang diplomat China yang ikut bersama saya)

Rombongan Indonesia hari ini mungkin tak paham cara mengukur elit tidaknya sebuah sekolah dari kehadiran grand piano atau jenis ekstra kurikuler yang asyik, semisal baseball dan bukan hanya baris berbaris. Yang menjadi pembicaraan mereka justru, bangku meja belajar yang tua (tapi tentu sangat bersih dan terawat) dan papan serta kapur tulis.

“Jadi tak ada white board di sekolah ini?”

Seorang kiai bertanya keheranan.

“Pesantren kami lebih canggih dong!”

Kiai yang lain terbahak. Siang itu mereka menemukan sesuatu yang terasa lucu: kapur tulis yang masih digunakan di sebuah sekolah, di sebuah negara yang dijuluki paling canggih di dunia.

Kapur tulis, lantai ubin (bukan porselen atau keramik seperti di sekolah-sekolah kota besar di Indonesia), meja dan bangku kayu berusia puluhan tahun, gedung sekolah yang tak kalah tua.

(Ah tak canggih, kata rombongan Indonesia)

Dan penjelasan pihak sekolah Hiroo? “Kami harus merawat barang dengan baik, tak mudah mengajukan proposal anggaran ATK, uang bangku, fasilitas kelas yang baru, apatah lagi di setiap tahun ajaran baru.”

Papan tulis jelas lebih awet dan hemat dibandingkan whiteboard. Sekotak kapur tulis jelas lebih hemat ketimbang selusin spidol . Ini bukan urusan canggih atau tidak. Ini soal menjalankan aktivitas pendidikan dengan anggaran rasional, memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pendidikan lainnya seperti menggaji guru dengan lebih manusiawi, menyewa pelatih profesional untuk ekstra kurikuler, meski sarana kelasnya tidak canggih-canggih amat…

Jepang yang berusaha hemat dan awet. Saya semakin percaya itu.

kenapa papan tulis tidak warna hitam?
karena warna hijau dapat menyegarkan otak dan meningkatkan fokus. Kenapa? karena setiap warna memancarkan gelombang yang berbeda. Hijau termasuk yang memancarkan gelombang rendah.
Mungkin masalah papan tulis bukanlah masalah bagi banyak orang. Tapi saya percaya hal kecil membawa dampak besar. Kalau kamu pernah baca tentang butterfly effect, kamu akan percaya kalau kepakan seekor kupu-kupu kecil di hutan amazon akan menimbulkan tornado besar beberapa bulan kemudian.

Apa kapur tulis tidak berbahaya?

Kapur tulis memang merupakan produk kimia yang dibuat dari kalsium karbonat, CaCO3. Dalam penggunaannya, debu kapur dapat menyebabkan berbagai gangguan seperti rasa panas di kulit, iritasi mata, dan gangguan pernapasan. Namun, berdasarkan penelitian Laboratorium ITB, kapur tulis justru tidak membahayakan pernafasan kita. Hal ini karena debu kapur tulis tergolong ukuran besar, butirannya dapat ditahan oleh bulu-bulu hidung, sehingga tidak sempat masuk ke dalam paru-paru, walaupun dapat menyebabkan batuk.

Berbeda dengan kapur tulis, marker yang beberapa diantaranya masih mengandung xylene (zat yang menimbulkan bau khas pada spidol) lebih berbahaya karena partikel yang dihasilkan jauh lebih kecil sehingga dapat masuk ke paru-paru dan mengendap. Dalam jangka waktu yang lama, hal ini dapat menyebabkan penyakit paru-paru. Selain itu limbah plastik yang dihasilkan dari marker yang sudah tidak dapat diisi ulang kembali dapat meningkatkan jumlah sampah plastik. Seperti yang kita ketahui bahwa plastik adalah material yang membutuhkan proses yang sangat lama untuk dapat diuraikan.

GO GREEN ..

Sumber: http://goo.gl/sm71na

Ada yang bisa baca tulisan di papan tulis?

-Rei Gifu KdJ-